Pages

Thursday, May 28, 2009

Kisah Sahabat Siri 2

(Jadikanlah sahabat sebagai pedoman dalam kita mengharapkan kemenagan dalam Perjuangan dan Dakwah ini. Cintai syahid dan bencikanlah dunia.)


THUFAIL BIN ‘AMR AD

“Wahai Allah! Berilah dia kemampuan yang dapat menyampaikan niat baiknya.” (Do’a Nabi Saw.untuk Thufail.)

THUFAIL BIN ‘AMR AD adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk bangsawan Arab yang terkemuka dan seorang pemimpin yang memiliki karisma serta kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku. Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu. Dia senang memberi makan orang yang kelaparan, lindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap penganggur.

Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan berperasaan halus. Selalu teliti terhadap yang manis dan yang pahit. Karyanya mempesona bagikan sihir

Pada suatu ketika, Thufail meninggalkan negerinya Tihamah,’ menuju Mekkah. Waktu itu konfrontasi antara Rasulullah saw. dengan kafir Quraisy semakin kuat. Masing-masing pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisme bagi memperkuat golongannya. Untuk itu, senjata Rasulullah saw. hanya mendo’a kepada Tuhannya, disertai iman dan kebenaran yang dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakkan impian mereka dengan kekuatan senjata, dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang ramai menjadi pengikut Nabi Muhammad.

Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengajakan, karena kedatangannya ke Makkah itu bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy belum pernah terlintas dalam fikirannya sebelum itu. Mengenai keterlibatannya dalam pertentangan itu, Thufail mempunyai suatu kenangan yang tak dapat di lupakannya. Karena itu marilah kita semak ceritanya yang unik ini:

“Kedatangan saya ke Makkah kali itu mereka sambut agar luar biasa, aku ditempatkan di sebuah rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan menemuiku.”

Kata mereka, “Hal Thufail! Kami sangat gembira Kamu datang ke negeri kami, walaupun negeri kami sedang dilanda kemelut. Orang yang mendakwakan diri menjadi Nabi itu (Nabi Muhammad saw.) ternyata telah merosak agama kita, merosak kerukunan kita, dan memecah persatuan kita semua. Kami khuatir dia akan mempengaruhi Kamu pula. Kemudian dengan kepimpinan Kamu, dipengaruhinya pula kaum Kamu, seperti yang terjadi pada kami.”

“Kerena itu, janganlah Kamu dekati orang itu, jangan berbicara dengannya dan jangan pula mendengarkan kata katanya. Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir. Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama saudara dan menceraikan isteri dengan suami.”

‘Demi Allah! Mereka selalu mendampingiku, dan menceritakan hal yang aneh-aneh kepadaku, kata Thufail. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan keajaiban keajaiban yang pernah dilakukan orang itu. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendekati orang itu, tidak akan berbicara dengannya dan tidak akan mendengarkan apa-apa yang dikatakannya.

Pada suatu pagi aku pergi ke masjid hendak thawaf di Ka’bah, dan mengambil berkat dari berhala-berhala yang kami puja. Hal seperti itu biasa kami lakukan ketika kami haji. Telingaku kusumbat dengan kapas, karena aku takut suara Muhammad akan terdengar olehku.

Tetapi ketika masuk ke masjid, ku lihat Muhammad sedang shalat dalam Ka’bah. Tetapi shalatnya tidak seperti shalat kami, dan ibadatnya tidak seperti ibadat kami. Aku terpesona melihatnya. Sedikit demi sedikit aku bergerak menghampirinya tanpa sadar, sehingga akhirnya aku dekat sekali kepadanya. Agaknya Allah swt mentakdirkan supaya aku mendengar apa yang dibacanya. Memang, ternyata kalimat-kalimat yang diucapkannya sangat indah dan baik sekali.

Lalu aku berkata pada diriku, “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang pujangga dan penyair. Engkau tahu membezakan mana yang indah dan yang buruk. Apa salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana yang buruk tinggalkan.

“Aku bagaikan terpaku di tempat itu sampai Rasulullah pulang. Lalu kuikuti dia sampai ke rumahnya. Setelah dia masuk, aku pun masuk pula. Setelah kami duduk, aku berkata kepadanya:

“Ya, Muhammad! Sesungguhnya kaum Kamu berkata kepadaku tentang diri Kamu begini dan begitu. Mereka menakut-nakutiku berhubung dengan urusan agama Kamu. Oleh kerana itu aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataan Kamu. Tetapi Allah menghendáki supaya aku mendengar sesuatu dari Kamu. Ternyata apa yang Kamu ucapkan semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama Kamu itu!”

Rasulullah mengajarkan kepadaku perihal agama Islam. Dibacakannya Surah Al Ikhlas dan Al Falaq. Demi Allah! Belum pernah aku mendengar kalimat-kalimat seindah itu. Dan belum pernah aku mengenal agama yang lebih baik daripada Islam ini.

Setelah itu kuhulurkan tanganku kepadanya, lalu ku ucapkan dua kalimah syahadat:

Sejak itu aku masuk Islam.

Kemudian aku menetap di Makkah beberapa lama, mempelajari agama Islam kepada baginda. Aku menghafal ayat-ayat Al Qur’an yang dapat ku hafal. Ketika aku bermaksud hendak kembali kepada kaumku, kukatakan kepada beliau, “ Rasulullah! Aku ini pemimpin yang dipatuhi oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka masuk Islam. Tolonglah do’akan kepada Allah swt., semoga Allah memberi ku bukti-bukti nyata yang dapat memperkuat da’wahku kepada mereka, supaya mereka masuk Islam.”

Rasulullah sawpun. mendo’akannya:
Di tengah perjalanan pulang, ketika aku sampai di tempat yang dimuliakan kaumku, keluarlah suatu cahaya di antara kedua mataku seperti lampu.

Aku mendo’a, “Ya Allah! Pindahkanlah cahaya ini ke tempat lain, karena kalau cahaya ini terletak di antara kedua mataku, aku khuatir kalau-kalau kaumku menyangka mataku telah kèna balasan karena meninggalkan agama berhala....”

Maka dengan izin Allah cahaya itu dipindahkan ke hujung tongkatku, bagaikan sebuah lampu yang tergantung. Setelah aku berada di tengah-tengah mereka, yang pertama sekali mendatangiku adalah bapaku sendiri. Beliau sudah berusia lanjut.
“Jauhilah daripadaku! Aku bukan lagi putera ayah, dan ayah bukan bapaku lagi!”

“Mengapa begitu, hai anakku? “tanya bapa.
“Aku telah masuk Islam. Aku adalah pengikut agama Nabi Muhammad saw.,” jawabku.
‘Wahai anakku! Bagaimana kalau aku masuk agamamu. Supaya agama mu menjadi agamaku pula?” tanya bapa.

“Kalau begitu pergilah Bapa mandi lebih dahulu. Bersihkan badan dan pakaian Bapa. Sesudah itu kembalilah ke sini, supaya ku ajarkan kepada Bapa apa yang telah ku pelajari tentang Islam.”

Bapaku pergi mandi membersihkan badan dan pakaiannya. Sesudah itu kuajarkan kepadanya tentang Islam, Lalu dia masuk Islam.

Kemudian datang pula isteriku.

Aku berkata kepadanya, “Jauhi daripadaku! Aku bukan suamimu lagi, dan engkau tidak pula isteriku lagi.”

“Mengapa begitu, hai Thufail?” tanya isteriku heran. “Islam telah memisahkan aku dan engkau. Aku telah masuk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.,” kataku menjelaskan

“Bolehlah aku masuk agamamu?” tanya isteriku.

“Pergilah engkau mandi lebih dahulu ke telaga ‘Zi Syara?” Bersihkan badanmu di telaga itu!” kataku.

“Apakah engkau tidak takut kena sumpahan ‘Zi’ Syara?” tanya isteri cemas

“Aku tidak peduli dengan berhala Zi Syara-mu itu! Pergilah mandi ke sana! Tempat itu jauh dari penglihatan orang banyak. Aku menjamin batu-batu yang tidak bisa apa-apa itu tidak akan berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan mu” kataku meyakinkan.

Sesudah mandi dia datang kembali kepadaku, Maka ku ajarkan kepadanya tentang Islam, lalu dia masuk Islam.

Kemudian ku ajak seluruh kabilah Daus masuk Islam. Tetapi mereka tidak memenuhi ajakanku, kecuali Abu Hurairah. Dia memang paling cepat memenuhi panggilan Islam.

Aku datang menemui Rasulullah saw. di Makkah bersama-sama dengan Abu Hurairah,” ucap Thufail melanjutkan ceritanya.

Rasulullah saw bertanya, “Bagaimana perkembangan dakwahmu, hai Thufail?”

“Hati kaum ku masih tertutup dan sangat kafir. Sungguh seluruh kaumku, kabilah Daus, masih sesat dan durhaka,” jawabku.

Rasulullah saw. pergi mengambil wudhu’, kemudian beliau sholat. Sesudah sholat beliau menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu mendo’a. Pada saat-saat itu Abu Hurairah merasa kuatir dan takut kalau-kalau Rasulullah mendo‘akan agar kabilah Daus celaka.”

Tetapi kiranya Rasulullah mendo’akan sebaliknya

“Allahummahdi Dausan...! Allahummmahdi Dausan... ...! Allahummahdi Dausan....!”

(Wahai Allah! Tunjukilah kabilah Dausy....! “) Kemudian beliau menoleh kepada Thufail, lalu bersabda: ‘Pulangkah kepada kabilahmu! Lemah lembutlah terhadap mereka! Dan ajaklah mereka masuk Islam dengan bijaksana!”

Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, aku menetap di negeriku dan mengajak kaumku masuk Islam. Sementara itu telah terjadi perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq. Setelah itu aku datang kepada Rasulullah saw. membawa seramai lapan puluh keluarga muslim Dausy, yang keislamannya tidak disangsikan lagi.

Rasulullah menyambut gembira kedatangan kami. Beliau memperlengkapi kami secukupnya dengan harta rampasan perang Khaibar.

Kami bermohon kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah! tempatkanlah kami di “sayap kanan” pasukan Anda dalam setiap peperangan yang Anda pimpin. Dan kompi(pasukan Kecil) muslimin Dausy ini kami bernama “Kompi Mabrur”

Kata Thufail, ‘Sesudah itu aku senantiasa mendampingi Rasulullah s.a.w. dan turut berperang bersama beliau kemana saja, hingga kota Makkah dibebaskan dari kekuasaan kaum kafir Quraisy.”

Setelah pembebasan kota Makkah, aku bermohon kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah! Izinknlah aku pergi ke Dzil Kafain, untuk memusnahkan berhala-hala yang ada di sana.

Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut dengan satu kumpulan tentara yang dipimpinnya. Sewaktu sampai ke sana dan mereka bersiap hendak membakar berhala Dzil Kaffain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak sekitar mereka, menunggu-nunggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi petir dan halilintar, bila sahabat Thufail menjamah berhala Dzil Kaffain itu.

Tetapi Thufail dengan mantap meruntuhkan berhala itu disaksikan para pemujanya sendiri. Beliau menyalakan api tepat di jantung Dzil Kaffain, sambil bersajak

“Hal Dzil Kaffain! Kami bukanlah pemujamu. Kelahiran kami lebih dahulu dari keberadaanmu. lnilah aku, menyalakan api di jantungmu!”

Setelah api membakar habis patung-patung Dzil Kaffain, hilanglah sisa-sisa kemusyrikan dalam kabilah Dausy. Seluruh kabilah Daus lalu masuk Islam, dan menjadi muslim sejati.

Thufail Bin ‘Amr Ad Dausy senantiasa mendamping Rasulullah saw. sampai beliau wafat. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, Thufail dan anak buahnya patuh kepada pemerintahan Khalifah Abu Bakar. Tatkala berkecamuk peperangan membasmi orang murtad, Thufail paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentera muslimin memerangi Musailamah Al Kazzab (Musailamah si pembohong). Begitu pula putera beliau, ‘Amr bin Thufail, yang selalu tak mau ketinggalan.

Ketika Thufail sedang dalam perjalanan menuju Yamamah (kawasan tempat Musailamah nenyebarkan fahaman murtadnya), dia bermimpi

“Aku bermimpi, Cobalah kalian ta’birkan mimpi ku itu”, kata Thufail kepada sahabat-sahabatnya.

“Bagaimana mimpi Kamu?” tanya kawan

“Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian seorang perempuan memasukkanku ke dalam perutnya. Anakku ‘Amr menuntut dengan sungguh-sungguh supaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuat apa karena antaraku dan dia ada dinding.”

Sebuah mimpi nan indah!” komentar kawan-kawan nya.

Kata Thufail, “Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya kepalaku dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku keluar dari jasadku. Seorang perempuan memasukkanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang, lalu aku dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan anakku, dia juga berharap supaya mati syahid seperti aku. Tetapi permintaannya dikabulkan kemudian.”

Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah Al Kazzab di Yamamah, sahabat yang mulia ini, yaitu Thufail Ibnu ‘Amr Ad Dausy, mendapat cedera sehingga dia sakit tenat dan tewas di medan tempur.

Puteranya ‘Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya kudung. Setelah itu dia kembali ke Madinah meninggalkan tangannya sebelah dan jenazah bapanya di medan tempur Yamamah.

Tatkala Khalifah ‘Umar bin Al Khatthab memerintah, ‘Amr bin Thufail (putera Thufail) datang ke majlis khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makanan pun dihidangkan orang. Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak ‘Amr supaya turut makan bersama-sama. Tetapi ‘Amr menolak dan menjauh.

“Mengapa...? “, tanya Khalifah. Barangkali engkau lebih senang makan kemudian. Mungkin engkau malu karena tanganmu itu.”

“Betul, ya Amiral Mukminin! “ jawab ‘Amr.

Kata Khalifah, ‘Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia kau sentuh dengan tanganmu yang kudung itu. Demi Allah! Tidak seorang jua pun yang sebagian tubuhnya telah berada di surga, melainkan hanya engkau.”

Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala terjadi perang Yarmuk, ‘Amr bin Thufail turut pula berperang bersama-sama dengan tentera muslimin. ‘Amr tewas dalam peperarngan itu sebagai syuhada’, seperti yang diharapkan oleh bapanya.

Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail dan kepada puteranya, ‘Amr, yang syahid di medan tempur Yamamah dan Yarmuk.

No comments: